Lyli adalah seorang gadis remaja yang memiliki hobi mengoleksi dan merawat tanaman-tanaman apapun yang dianggapnya bermanfaat dan indah. Walaupun hidup seadanya, dia tetap ceria dan mensyukuri setiap yang dimilikinya. Sejak umurnya berusia 10 tahun, dia telah menjadi anak yatim piatu, karena kasihan, akhirnya dia diangkat sebagai anak oleh Bibinya yaitu Bi Jum. Pekerjaan sebagai pengantar pesanan makanan, mereka jalani dengan penuh semangat, walau penghasilan yang tak seberapa.
Di sekolahpun, Lily terkenal sebagai anak yang pintar dan rajin, banyak guru dan teman-teman sebayanya yang menyukai kepribadiannya. Di sisi lain, ada salah seorang temannya yang sangat membenci dirinya yaitu Cikha, dikarenakan Lily mempunyai kebiasaan yang lain dari remaja pada umumnya, yaitu menghasbiskan waktu dengan tanaman-tanaman setiap pagi dan sore hari. Walau demikian, Lyli tetap sabar dan tak pernah menyimpan dendam apapun kepada temannya itu, meski sering kali dia mendapat perlakuan dan kejahilan yang sangat menyakitkan hati dari temannya tersebut.
“li,lily, kamu dimana? Bi Jum perlu bantuan mu sebentar, nak!!!. ” sahut Bi Jum.
“iya Bi, tunggu sebentar, aku mau merapikan alat-alat tanamku dulu.” Teriak Lily.
Lima menit kemudian lily datang menghampiri Bi Jum di teras rumah.
“ada apa Bi? Apa yang bisa aku bantu buat Bi Jum!!!”. Sahut Lily sambil mengusap keringat yang masih menetes di dahinya.
“tolong kamu bawakan kue-kue pesanan ini ke rumah Cikha anak pak Soleh itu ya?” kata Bi Jum sambil memberi dua rantang makanan kepada lyli.
“Oke , Bi Jum!!!” kata lyli tersenyum senang.
Dengan mengendarai sepeda, Lily pun berangkat ke rumah Cikha. Setengah jam kemudian Lily tiba di rumah Cikha. namun, bukannya di sambut sebagai tamu, malah dimaki sejadi –jadinya oleh kediaman pak Soleh tersebut.
“dasar cewek tumbuhan, lama sekali kamu datang. Baru membawa dua rantang makanan saja kamu sudah kuwalahan seperti ini.!!!” Bentak Cikha.
“ lyli, kamu itu bikin malu keluarga saya, lihat tamu-tamu saya sudah hampir pulang semua, ini akibat kemalasan kamu. Jika tidak sanggup, mending jangan jualan saja di kampung ini!!!” bentak Bu Soleh.
“maafkan aku Bu, lain kali aku usahakan tidak akan terlambat lagi.” Kata Lyli sambil tertunduk sedih.
“sudahlah, apa-apaan kalian ini, ada tamu malah di maki-maki. Lyli, maafkan keluarga bapak ya nak?. “ kata Pak Soleh seraya menerima dua rantang makanan.
“iya, pak, tidak apa-apa. Memang ini semua salah ku, lain kali aku usahakan datang lebih awal ya pak?sekali lagi say a minta maaf” kata Lily murung.
“ya, sudah, ini uang pesanan keluarga bapak. Sekarang kamu pulang dan istirahatlah.!!!” Kata Pak Soleh sambil tersenyum kecil.
Saat akan magrib, Lyli baru tiba di rumahnya. Dia bergegas mandi dan menyiapkan segala keperluan untuk sekolah besok, shalat, makan, belajar, kemudian tidur.
Keesokan harinya, saat tiba di sekolah, Lyli begitu terkejut melihat bangkunya penuh dengan lumpur dan permen karet yang telah mengering.
“hey teman-teman, lihat bangku si cewek tumbuhan joroknya bukan main.” Teriak Chika sambil tertawa riang.
“ihh, lyli jorok. Lyli jorok.!!!” Kata teman-teman sekelasnya.
Dengan menahan tangis, lyli berusaha sabar dan terus sabar sambil mengangkat bangkunya ke toilet untuk di bersihkan.
“siapa yang tega mengerjaiku hingga keterlaluan seperti ini? Apa aku pernah berbuat salah?” gumam Lyli sambil tetap membersihkan bangkunya.
Begitulah keseharian Lyli, penuh dengan ejekan dan kejahilan teman-temannya yang telah terhasut akal bulus Chika. Namun, dia tetap saja sabar dan tersenyum. Bila terasa sedih pun Lyli tak pernah menanyakan kepada Bi Jum, dia hanya bercerita kepada tanaman-tanaman yang dianggapnya seperti sahabat sendiri.
Bulan demi bulan terus berganti, hingga suatu hari Pak Soleh jatuh sakit. Harta keluarganya pun semakin menipis. Sudah banyak tabib dan dokter yang ia datangi, namun, keadaannya kurang mengalami perubahan.
Dengan putus asa,keluarga dan Pak Soleh selaku kepala desa di kampung itu, mengumpulkan semua warga dan membuat sayembara.
“warga-warga yang saya hormati sekalian, saya memberi sayembara kepada kalian semua, barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakitku ini, akan kuserahkan kalian 5hektar sawah dan satu rumah yang megah milikku di kampung ini.!!” Kata Pak Soleh tertuntuk lemas.
Maka, semenjak hari itu pun warga berduyun-duyun saling bergantian mencoba menyembuhkan penyakit Pak Soleh tersebut, namun tak ada satu pun yang berhasil. Sehingga, mendengar kabar Pak Soleh yang hampir sekarat, Lyli menjadi iba.
“Bi, apa tak sebaiknya aku korbankan saja tanaman-tanaman kesayanganku untuk kesembuhan Pak Soleh? Kasihan beliau Bi.” Kata Lyli kepada Bi Jum sehabis makan siang.
“Li, kamu itu memang anak yang sangat berbakti dan rajin, Bi jum sangat sayang padamu. Tapi, apa kamu tidak sedih bila tanaman-tanaman yang sangat kamu cintai itu di korbankan untuk Pak Soleh?” kata Bi Jum sambil mengelus kepala Lyli.
“iya Bi, sebenarnya aku sedih, tapi pasti keluarga Pak Soleh lebih sedih dariku. Biarlah aku ikhlaskan saja tanaman-tanaman yang telah kurawat selama bertahun-tahun itu untuk kesembuhan Pak Soleh, beliau kan juga banyak berjasa di kampung ini!!!” kata Lyli tersenyum kecil.
Akhirnya, Bi Jum menyetujui kemauan Lyli dan mulai membantu Lyli memangkas satu persatu tanaman-tanaman tersebut kemudian di raciknya menjadi obat.
Keesokan sorenya, mereka pun berkunjung ke rumah Pak Soleh dan memberi obat hasil racikan mereka kepada keluarga Pak Soleh.
Alhasil, tiga hari kemudian Pak Soleh dapat memulai semua pekerjaannya tanpa bantuan dari keluarganya lagi.
Melihat kebahagiaan keluarganya kembali lagi, Chika pun sadar akan kejahatannya selama ini kepada Lyli, dan dia pun meminta kepada kedua orang tuanya untuk mewakili penyerahan sayembara tersebut kepada Lyli dan Bi Jum pada keeseokan harinya.
Setelah pulang dari sekolah, Chika langsung ke rumah Lyli.
Dia meminta maaf akan semua kesalahannya kepada Lyli dan memberinya sayembara itu kepada Lily dan Bi Jum. Akhirnya, semenjak kejadian itu Lily dan Chika menjadi sahabat. Sedangkan, walau telah menjadi oarng kaya di kampung itu, Lyli dan bibinya tak pernah sombong dan serakah terhadap semua warga. Mereka tetap sederhana dan rendah hati. Tanaman-tanaman Lyli pun semakin banyak dan tak terhitung jumlahnya.
Inilah arti keajaiban cinta Lyli selama ini....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar