Kamis, 29 Juli 2010

kEPINGan YAng berHarga

Sahabat....
Saat saya dinyatakan telah lulus dari SD, saya telah berniat akan mendaftarkan diri di salah satu SMP unggulan yang dari dulu telah kuimpikan, yakni SMP NEGERI 25 MAKASSAR, yang jaraknya lumayan dekat dengan lokasi tempat tinggalku saat itu.
Namun, saya tidak sendirian memiliki impian itu, saya di temani oleh dua orang sahabatku, yakni Mikha dan Tania. Mereka berdua adalah sahabatku sedari kecil,rumah kami pun saling berdekatan satu sama lain, hal itu wajar-wajar saja, karena ayah kami bertiga adalah dosen di salah satu Universitas ternama di Makassar, sehingga kami semua di pertemukan di perumahan khusus dosen dari Universitas tersebut juga, hehe..
Dalam mengarungi hidup, semua kegiatan hampir setiap hari kami lakukan dan lalui bersama baik dalam suka maupun duka. Meski, dulu saya sempat berpisah selama kurang lebih setahun dengan mereka berdua, hal itupun bukan kehendak mereka, melainkan dikarenakan suatu urusan dalam keluarga mereka masing-masing yang harus dipenuhi. Walaupun demikian, persahabatan kami tetap berjalan seiring waktu yang tak terasa membawa kami bertiga kedalam dunia remaja saat itu.
Sehingga,demi rasa solidaritas di antara kami, kami memutuskan untuk mendaftar bersama di SMP tersebut. Segalanya telah kami persiapkan matang-matang, termasuk persiapan dalam menghadapi tes yang akan di selenggarakan dua minggu setelah pendaftaran. Sehingga, seminggu sebelum pengambilan formulir dan kartu tes, kami pun memutuskan untuk serius belajar agar dapat menempati bangku SMP tersebut bersama-sama.
Namun, apa daya...
Tuhan malah memberi kami cobaan yang sangat berat. Dimana, setelah beberapa hari belajar bersama, Tania jatuh sakit. Rasa sedih yang mendalam pun tak terbendung saya dan sahabatku Mikha rasakan, hingga suatu malam air mata di antara saya dan sahabatku Mikha pecah,karena selain harus menerima kenyataan bahwa Tania sakit, kami juga harus menerima kenyataan bahwa sesungguhnya sakit yang di derita Tania adalah penyakit yang sangat mengerikan, Kanker darah...
Sehingga,secara tidak langsung, saya dan sahabatku Mikha terkejut bukan main saat mendengar diaknosa dari dokter yang merawatnya tentang penyakit itu, padahal kalau di pikir-pikir Tania tak pernah mengeluh ataupun memperlihatkan gejala dari penyakit yang mengerikan itu kepada kami berdua.
Akhirnya, tes yang kami nantikan itu mau tidak mau harus saya dan Mikha lalui secara terpaksa dan berat hati, karena kondisi Tania saat itu tak mengizinkannya. Namun, Sehari sebelumnya, kami berdua sempat berdoa di samping Tania agar Tuhan mau memberi mukjizat kepada Tania setelah tes tersebut kami lewati berdua...
Saat tes, dengan perasaan yang gembira bercampur haru saat itu, saya dan Mikha rasakan kerena soal tes yang kami berdua hadapi saat itu adalah 80% soal yang telah kami pelajari bersama sebelum rasa duka tentang Tania datang menghujam kebersamaan kami. Sehingga, saat sepulang dari menghadapi tes itu, kami berdua langsung menemui Tania yang sampai saat itu pun belum sadarkan diri di rumah sakit. Walau demikian, saya dan Mikha tetap saling menasehati apabila kadang kala air mata itu akan jatuh lagi saat akan menemui Tania, kami berdua selalu sepakat akan menyembunyikan duka kami dengan selalu tersenyum, bercerita, dan berdoa kepada Tania saat menemuinya..
Namun, sekali lagi cobaan lain datang menghampiri saat dukaku dan tania belum terobati...
Bayangkanlah, di depan mataku dan sahabatku Mikha malam itu, Tania akhirnya sadarkan diri, namun bukan untuk tersenyum kepada kami berdua melainkan untuk memperlihatkan kesakitan yang sangat luar biasa dirasakannya...
Tania tak henti-hentinya menggenggam tangan kami berdua walaupun dokter dan orang tua kami masing-masing telah menyuruh kami berdua untuk keluar dari ruangan itu sejenak, bahkan saking sakitnya penderitaan yang di jalani oleh Tania, dia sampai mengalami kejang luar biasa di depan mata kami berdua yang tak seharusnya kami berdua lihat malam itu...
Air mata di malam itupun langsung tumpah membasahi pipi setiap orang yang sayang padanya. Karena tak sanggup lagi melihat penderitaan Tania, saya langsung pingsan di genggaman Tania saat itu, dan saat sadar saya telah berada di suatu ruangan di rumah sakit itu bersama keluargaku dan sahabatku Mikha yang sangat setia menjaga dan mendoakan sahabatnya...
Itulah keunikan Mikha, diantara kami bertiga dialah yang paling kuat, tabah, dan ikhlas dalam menjalani hidup... dia bagaikan inspirasiku dan kekuatanku di saat aku sedang jatuh...
Sedangkan Tania adalah sosok wanita tercantik dan teranggun yang pernah kumiliki, dia sangat mengerti betul gaya dan model di setiap waktu.selain itu, dia sangat ramah, perhatian, dan beribawa kepada saya dan Mikha...
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa kami di pertemukan dan di beri cobaan bersama-sama...
Lanjut cerita, saat saya sadar saya langsung memeluk erat sahabatku Mikha, dan menangis sejadi-jadinya, saya mengaku di pelukannya bahwa saya tak sanggup melihat dan merasakan penderitaan Tania malam itu. Akhirnya, hanya dengan lima kata, ia mengatakan “Tuhan sayang kepada kita sahabatku”!!!
Perlahan, saya pun dapat menerima kenyataan itu...
Dua hari setelah duka tersebut, akhirnya pengumuman kelulusan pun di umumkan, dan Alhamdulilah saya dan Mikha lulus dengan hasil nilai yang tinggi, namun apalah kuasa kami berdua...
Sahabat...
Di saat kami berdua sedang ingin menikmati kebahagiaan itu bersama Tania...
Sesuatu yang kami berdua takutkan akhirnya datang juga, pukul 04.30 pagi, Tania menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit...
Saya masih ingat betul, setengah jam sebelum kepergiannya, dia sempat sadar dan bercengkrama dengan kami berdua...
Walaupun dengan wajah yang putih pucat dan badan yang kurus kaku, dia tetap tersenyum dengan tingkahku bersama Mikha yang konyol di dekatnya saat itu, malahan ibunya memberi kami bertiga sebuah puzel foto kami saat masih kecil dulu..
Puzel itu terdapat empat kepingan, satu untukku, Mikha, dan Tania,sisanya untuk kami pasang bertiga secara bersama-sama...
Satu persatu kepingan kami pasang di papan puzel foto itu, dan saat puzel terakhir telah kami pasang bertiga, Tania berkata “Indah, Mikha... kalau nanti saya pergi, saya mohon jangan lupakan saya sebagai sahabat terbaikmu. Maaf saya harus gugur duluan sebelum tes itu, kawan!!. Terimakasih atas masa-masa terbaik dalam hidupku yang kalian telah berikan, saya akan merindukan kalian disana...”
Setelah perkataan terakhirnya itu keluar dari bibirnya yang pucat, akhirnya kami bertiga saling berpelukan,saling meluapkan kasih sayang walau teriringi air mata...
Dan untuk terakhir kalinya, dengan berat hati sayapun berkata kepada Tania ”ia sobat, jika memang ini sudah saatnya, silahkan pergi dengan tenang, insyaallah saya dan Mikha akan mengikhlaskanmu kawan, sumpah!! Kamu adalah sosok sahabat yang sangat langkah, kami pasti akan merindukan mu sayang”....
Maka, setelah saya dan Mikha mencium kepalanya untuk terakhir kali..
Diapun berpamitan, kemudian lenyap dari raganya yang menyiksanya selama ini...
SELAMAT JALAN SAHABATKU, DAMAILAH BERSAMA PERSAHABATAN KITA YANG TAK KAN PERNAH BERAKHIR INI...
WE MISS U SO MUCH..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar